Kritik Terhadap Film My Flag yang Dibintangi Gus Muwafiq, Tidak Mewakili Spirit NU

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A* Belakangan muncul film berjudul "My Flag", yang dibintangi oleh salah satu dai muda dari Nahdlatul Ulama, Gus Muwafiq. Publik Nahdliyyin heboh, karena merasa film ini bukan hanya tidak mewakili spirit NU melainkan seperti menikam dari belakang. Publik non Nahdliyin harus mengerti bahwa sekalipun film pendek ini diposting oleh channel atau media sosial NU, ia mewakili pandangan personal Gus Muwafiq dan crew filmnya, namun tidak NU secara umum. Sehingga semua gagasan yang ada di dalam film harus ditempatkan sebagai bagian dari opini personal.

Penulis tidak handak mengomentari terlalu jauh tentang film yang menyudutkan fashion umat muslim yang bercadar. Hal itu sudah common sense dan rahasia umum bahwa Islam tidak melarang umatnya mengenakan cadar. Bercadar dan menutup aurat sudah bagian dari ajaran Islam. Hanya saja para ulama berbeda pendapat tentang batasan batasan menutup aurat dan bercadar, karenanya persoalan ini adalah khilafiyah dan furu'iyah. Film My Flag tidak hanya menyempitkan makna nasionalisme ke dalam urusan melawan orang bercadar melainkan juga Gus muwafiq menyempitkannya ke dalam bingkai militerisme. Penulis sempat mencatat tiga poin utama yang disampaikan di awal pembukaan film tersebut, semuanya tampak seperti gagasan 200 tahun silam. Pertama, Gus Muwafiq mengatakan, "Keamanan sebuah bangsa dan negara, itu yang akan menjamin kebaikan manusia dan keberlangsungan iman kita." Gagasan ini menempatkan perspektif keamanan sebagai faktor utama keberlanjutan iman dan agama. Seakan akan iman yang sifatnya spiritual dan bersemayam di dalam hati bergantung sepenuhnya kepada situasi dan kondisi material berupa keamanan negara. Paham materialisme lebih dominan dalam fikiran Gus Muwafiq dibanding kekuatan spiritual.

Kedua, Gus Muwafiq mengatakan, "Sejauh mana iman kita adalah sejauh mana kita ikut menjaga bangsa dan negara." Hipotesa ini adalah turunan dari materialisme religius di awal. Sehingga tidak ada pilihan lagi bagi manusia yang ingin mempertahankan keimanannya agar turut serta menjaga keamanan negara. Tentu publik akan segera sadar tentang paradoks dalam dua hipotesa tersebut. Jika keamanan negara adalah penjamin bagi keberlanjutan keimanan, lantas untuk apa orang beriman harus balas budi menjaga keamanan negara? Bukankah subjek yang berkuasa untuk melindungi tidak butuh untuk dilindungi?! Ketiga, Gus Muwafiq mengatakan, "Untukmu benderaku, untukmu tanah airku, cintamu dalam imanku." Poin ketiga ini terputus sepenuhnya dari 2 persoalan di atas. Dalam pernyataan ketiga sepenuhnya merupakan dimensi manusiawi, yaitu cinta seorang putra Bangsa kepada bangsa dan negaranya. Dengan kata lain, Gus Muwafiq tidak melibatkan persoalan spiritualitas, keimanan, keyakinan, dan agama dalam bersikap terhadap keamanan sebuah negara. Penulis rasa semua orang yang mencintai negara dan bangsanya pasti akan berbuat demikian.

Nasionalisme secara umum diartikan sebagai loyalitas individu kepada bangsa dan negaranya melebihi terhadap individu dan kelompoknya sendiri. Sejarah politik nasionalisme disebut sebut sebagai sebuah gerakan di era modern. Karena definisi nasionalisme atau cinta tanah air begitu luas maka penyempitan sebatas militerisme adalah sebuah tindakan gegabah. Pembuktian paling sederhananya sangat gampang, yaitu bahwa persoalan keamanan negara hanya salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang diajarkan di kampus di antara disiplin disiplin lain yang kesemuanya dapat diabdikan untuk bangsa dan negara. Keamanan negara merupakan hal penting tetapi bukan satu satunya yang paling penting. Menyempitkan makna nasionalisme ke urusan keamanan bangsa dan negara adalah cara berfikir kaum intelijen maupun militer. Gus Muwafiq harus kembali lagi belajar sejarah, terlebih bagaimana Islam diarahkan untuk membela keamanan bangsa dan negara. Sebagai pengantar, ketika umat Islam sedang dijajah oleh bangsa Eropa melalui perang salib, intelektual muslim yang terkenal di abad 13 adalah Ibnu Taimiyah. Ketika kekuasaan khilafah Turki Utsmani mulai runtuh di abad awal 19 muncul lagi tokoh Jamaluddin al Afghani.

Cara berpikir dua toko ini (Ibnu Taimiyah dan Jamaluddin Al Afghani) mirip sepenuhnya dengan Gus Muwafiq dalam film My Flag, yaitu menginginkan agar Islam berkontribusi kepada keamanan dan perlawanan terhadap kerusakan maupun pengrusakan wilayah kekuasaan umat muslim. Namun, cara berfikir pasca kolonialis semacam itu sudah banyak ditinggalkan, terlebih dengan munculnya beberapa tokoh di kemudian hari yang menawarkan cara pandang berbeda. Sebut saja dua tokoh besar dalam sejarah intelektual Islam ya ini Muhammad Abduh (1849 1905 Mesir) dan Rasyid Ridha (1865 Libanon 1935 Mesir). Abduh melihat problem utama umat muslim adalah perpecahan Politik. Jihad atau perjuangan bersama umat muslim adalah untuk melawan penguasa yang cinta duniawi dan mabuk kekuasaan, sebagai biang keladi utama perpecahan. Opini Abduh ini masih kontekstual dengan situasi kita hari ini. Beda lagi dengan Muhammad Rasyid Ridha, yang menyaksikan langsung kekalahan Turki Ustmani atas Budaya dan Politik Jerman. Sehingga Ridha menginginkan jihad umat muslim sebagai upaya menegakkan iman bukan rasionalitas. Sebab, rasionalitas total menuntut beberapa aspek dalam keyakinan dan keimanan umat muslim yang mestinya ditinggalkan. Belakangan ramai di media sosial kelompok tertentu yang menganjurkan paham atheisme, dekriminalisasi homoseksual, dan lainnya. Hal itu disebabkan oleh pandangan publik bahwa sebagian keyakinan umat beragama tidak rasional.

Gus Muwafiq mestinya menyadari perkembangan sejarah ilmu pengetahuan, terlebih dalam memaknai ajaran Islam beserta kontekstualisasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Film My Flag tampak sebagai proyek pesanan dari kelompok tertentu dibanding sebagai upaya memberikan pencerahan atau kesadaran baru dalam berbangsa dan bernegara. Dakwah NU berkarakter Tawasuth, Tawazun dan Tasamuh. Selama ini sudah sejalan dengan gaya dakwah Gus Muwafiq, karena beliau tidak berlebihan dalam berdakwah, bahkan apa yang dilakukannya sudah dianggap mewakili atau sebagai simbol dari gerakan kultural NU. Tetapi, dengan penayangan film My Flag ini, Gus Muwafiq tampak ceroboh dan membunuh karakter dakwahnya yang dibangunnya sendiri, bahkan dapat dinilai telah "menikam" dari belakang dan menghancurkan citra NU.*

Written By

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *